Lomba Fesban Chamdan



 

Di sebuah desa kecil yang kaya akan budaya, diadakan Festival Budaya dan Seni Festival Al Banjari (Fesban) tahunan. Setiap tahun, acara ini menjadi ajang unjuk kebolehan bagi para pemuda. Seorang gadis bernama Maya sangat bersemangat untuk mengikuti lomba tari tradisional. Sejak kecil, dia selalu menyukai tarian yang diturunkan dari nenek moyangnya. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikirannya: dia harus berkompetisi dengan teman-teman sebayanya yang juga berbakat.

Chamdan mulai berlatih setiap sore di Sekolahnya. Dia , mengikuti setiap lagu  yang diajarkan oleh gurunya. Suatu hari, saat berlatih, Chamdan merasa ragu. “Bagaimana jika aku tidak cukup baik?” gumamnya. Guru Chamdan mendengar keluhannya dan berkata, “Yang terpenting adalah usaha dan niatmu. Tunjukkan semangatmu di panggung.” Kata-kata itu memberi Chamdan semangat baru. Dia semakin rajin berlatih, bahkan mengundang beberapa temannya untuk berlatih bersama.

Akhirnya, hari Fesban pun tiba. Suasana desa dipenuhi warna-warni bendera dan tenda-tenda yang menjual makanan khas. Chamdan merasakan kegembiraan dan ketegangan bersamaan. Saat tiba giliran penampilan grupnya, jantungnya berdebar kencang. Ia melangkah ke panggung, melihat penonton yang antusias. Di saat itu, semua latihan dan kerja kerasnya terbayar. Begitu lampu hijau menyala, Chamdan dan timnya  merasakan ketegangan. Dia bersholawat dengan penuh semangat, setiap sholawat yang di lantunkan itu terasa enak.

Di eraka penampilannya, tiba-tiba terjadi kesalahan. Salah satu teman banjari, putra,tabuhannya keliru. Dalam sekejap, tim chamdan merasakan kepanikan. Namun, alih-alih panik, Chamdan terus bersholawat agar si putra bisa merasa ketengan. Dia segera menarik perhatian penonton dan membawakannnada tinggi dengang suara yang merdu . Penonton memberikan tepuk tangan meriah.  Chamdan merasa bangga bisa mengatasi situasi sulit dengan tenang. Setelah penampilan berakhir, rasa lega dan kebahagiaan meliputi Tim Chamdan.

Setelah semua penampilan selesai, juri mulai mengumumkan pemenang. Chamdan dan Timnya merasa cemas, tetapi saat namanya disebut sebagai juara ketiga , dia dan teman-temanya  melompat kegirangan. Meskipun tidak menjadi juara pertama, pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa menang bukanlah segalanya. Yang lebih penting adalah perjalanan yang telah dilaluinya dan keberanian untuk tampil. Chamdan pulang dengan senyum lebar, bertekad untuk terus Al Banjari dan berkontribusi pada budaya desanya.



Festival Budaya dan Seni itu telah memberikan Chamdan lebih dari sekadar prestasi. Dia belajar tentang kerja keras, persahabatan, dan keberanian untuk menghadapi tantangan. Setiap Lirikan lagu yang dibawakan bukan hanya bersholawat, tetapi juga melodi kehidupan yang tak ternilai. Kini, Chamdan siap untuk menghadapi lebih banyak panggung, menyebarkan Sholawat dan kebudayaan di setiap langkahnya.

Begitalh cerita Pendek dari pengalaman Chamdan, apabila ada keslahan mohon maaf yang sebesar-besarnya

Komentar